Senin, 18 Oktober 2010

Ada syukur pada setiap gigitannya


Udara siang hari di utara jakarta, yang hanya beberapa meter dari pantai, terasa begitu menyengat, hawa panas menyelimuti seluruh bagian kulit, memaksa bulir-bulir keringat menetes dari setiap pori-porinya, dahaga seakan mencengkram tenggorokan, segelas air putih tak jua membasahinya, meninggalkan dahaga yang sama. Sepanjang siang di utara jakarta akan selalu sama, panas, gerah dan dahaga, ya tentu saja karena awan mendung jarang sekali mampir, apalagi hujan.
Kuputar kipas angin pada kecepatan maksimal, berharap menghalau gerah dari tubuh,  sesaat saja rasa sejuk menyelimuti, sejalan dengan putaran kipas angin yang menyapu seluruh bagian ruangan, bergantian. Ingin kuarahkan kipas itu ke satu arah saja, diriku, ah tapi tak adil rasanya, aku tak sendiri di ruangan ini.
Suara pinta ibuku mengusik galauku, aku bergegas memenuhi pintanya. Dahaga tak hanya melanda diriku tapi ternyata jua ibuku dan penduduk jakarta siang itu tentunya. Kupercepat langkah menuju portal dekat masjid, kulewati gang-gang sempit berharap tak tersengat terik mentari, mengharap teduh pada bayang-bayang rumah di kiri-kanan gang. Langkahku terhenti pada gerobak penjual buah dingin di bibir portal, sebuah belimbing berwarna kuning yang nampaknya manis kupilihkan sesuai pinta ibu, dan mataku tergoda oleh merahnya potongan semangka yang berjejer di atas bongkahan balok es. Hmm, membayangkan semangka yang manis dan dingin bergelut di antara lidah dan gigiku membuat mulutku penuh dengan enzim saliva yang baru saja diproduksi, merespon kerja otak. Sepotong semangka merah yang manis dan dingin kubawa pulang bersama belimbing dan nenas nan kuning. Kupercepat langkah kakiku, dan hatiku berdendang.
Saat ku buka plastik pembungkus sepotong semangka itu, makin nampaklah merahnya begitu menggoda, saat gigitan pertama ‘cress’  renyah terasa, disertai rasa manis dan dingin bercampur menyapu permukaan lidah dan dinding mulutku, dinginnya mengalir menyejukkan kerongkonganku, dan qalbuku bergetar menyerukan pujian, subhanallah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan buah semangka yang manis ini. Gigitan kedua kurasakan air yang manis dan dingin semakin membasahi mulut dan kerongkongan, mengalir hingga ke lambung. Dan qalbuku kembali bergetar, subhanallah wal hamdulillah, bersyukur atas karuniaNya, aku dapat merasakan lezatnya sepotong semangka merah yang manis dan dingin ini. Setiap gigitan berikutnya, kurasakan dahagaku terbasuh sejuknya air semangka yang manis dan dingin, hawa panas padang Sahara yang semula menyelimutiku sirna sudah. Qalbuku tak henti bergetar melafazkan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakan semangka. Yah bayangkan semangka memiliki kadar air yang tinggi, hampir seratus persen, 97% tepatnya. Sementara tubuh kita 90% adalah air, 60% kebutuhan air tubuh kita dipenuhi lewat air yang kita minum, sisanya melalui sayur mayur, buah-buahan dan makanan yang kita konsumsi. Maha Besar Allah yang telah menghadirkan air yang tersimpan dalam pori-pori tanah, celah batuan, diantara akar tanaman saat hujan turun. Allah yang telah menjaga siklus air terus berlangsung yang berasal dari penguapan air di pantai, laut, dan samudera, turun ke bumi, dan disetiap makanan yang kita makan.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Kartini afriani, siang yang terik di penjaringan ,2010

Sedia Payung Sebelum Hujan...


Bogor, 9 Februari 2010, jam menunjukkan jelang pukul 5 sore, memasuki bojong gede cuaca gelap dan hujan lebat mulai menyambut kedatanganku memasuki kota bogor. Ah rasanya hujan akan bertahan sampai kakiku menjejak di stasiun, gumamku, benar saja memasuki stasiun bogor hujan belum juga reda, kereta pun memasuki jalur 2, sayang aku naik di gerbong belakang sehingga harus berjalan ke arah gerbong depan agar aku bisa berlindung di balik atap peron dari gemericik air hujan.  Setelah dekat peron aku segera saja melompat turun dan bergegas menuju pintu keluar, kakiku tertahan di sebuah minimarket sebelah pintu keluar, perutku perih sedari dalam kereta, kuambil sepotong roti dan segelas air mineral sebagai pengganjal perut di mobil nanti, pikirku. sejurus kemudian, tentu saja setelah membayar di kasir,ku bergegas menyerahkan karcis dan melangkahkan kaki di pintu keluar, tapi langkahku terhenti, dan bertanya dalam hati, mengapa orang-orang berkerumun di pintu, kan cuma hujan, apa mereka lupa membawa payung, gumamku, teringat obrolan dua orang ibu yang duduk disebelahku sebelum kereta meninggalkan jakarta-kota, “mudah-mudahan ga hujan, karna ga bawa payung”, aku sedikit bingung, tinggal di bogor dan pulang ke bogor koq ga bawa payung ya, nampaknya tidak hanya dua orang ibu tadi hampir segerombol orang di pintu keluar pun tak terlihat memegang payung, mereka menunggu hujan, ada yang berdiri sambil menikmati kacang rebus hangat, ada yang nongkrong dan asyik dengan gorengannya, beberapa yang lain pun bersiap mengikuti jejak mereka mengantri di penjual gorengan dan kacang rebus, sementara beberapa orang lainnya menggunakan jasa ojek payung, becak, atau menumpang temannya yang membawa payung. aku sempat tergiur untuk membeli sebungkus kacang bogor yang masih hangat itu, ah tapi aku ingat belum sholat ashar, kubuka payung biruku dan hap kakiku menjejak jalan yang becek, but baru beberapa langkah, kakiku terhenti “what??? Banjir” pantas saja mereka nongkrong di pintu keluar, ternyata bukan hanya hujan yang menghalangi tapi banjir. Hmm ternyata banjir tak hanya milik orang jakarta, khususnya penjaringan, rumahku. Aku berbalik ke belakang, bukan untuk nongkrong bareng tentunya, tapi segera menuju mushola di dalam stasiun sekaligus lewat pintu keluar ke arah taman topi, jalan alternatif agar terhindar banjir.
Di dalam 08, anggkot yang membawaku ke kosan, aku sedikit merenung, mengingat fragmen di pintu keluar stasiun tadi, bukankah mereka tahu bogor kota hujan dan memang sering hujan, tapi mengapa mereka tak (selalu) membawa payung. Payung sendiri menjadi hal wajib penghuni tasku, baik cuaca kemarau maupun penghujan, setidaknya dengan payung aku tak tersengat matahari jika harus berjalan di bawah teriknya sang surya, atau tak basah saat hujan mengguyur. Setiap hendak keluar rumah aku selalu memeriksa isi tas, hal apa saja yang harus kubawa sebelum menempuh perjalanan, dompet, HP, payung, dll.
Rasanya setiap orang yang akan menempuh suatu perjalanan tentu akan melengkapi diri dengan sesuatu yang diperlukannya selama perjalanan atau singkatnya ‘bekal perjalanan’, bentuknya bisa bermacam-macam dan bisa berbeda-beda bagi setiap orangnya, juga tergantung situasi dan kondisi, dan tergantung persepsi atau cara pandang masing-masing orang. Aku dan dua orang ibu tadi berangkat dari titik yang sama, dan memiliki tujuan yang sama, tetapi punya persepsi berbeda, sang ibu berpikir tak selamanya bogor hujan, aku berpikir tak ada salahnya untuk membawa payung, toh tadi saat menuju halte bus ke arah stasiun, jalanan panas, dan payung pun melindungi kulitku, dan bogor biasanya hujan. Atau bagi yang berkantong tebal akan berkata, ah gampang kalau hujan beli payung aja, di stasiun banyak yang jual payung.
Hidup yang kita jalani sejatinya adalah sebuah perjalanan, perjalanan menuju suatu titik yang sama, akhir episode kehidupan, sebuah kematian. Kematian pun hanya sebuah gerbang menuju perjalanan panjang berikutnya, alam akhirat yang kekal.
Tua, muda, kaya, miskin, presiden, pejabat, wakil rakyat, koruptor ataupun tukang becak semua akan menuju titik yang sama, sebuah kematian1. Kematian bisa datang menghampiri kapan saja dan dimana saja2, tentu dapat menimpa siapa saja. Kematian bisa datang dengan pertanda ataupun tiba-tiba. Pertanda kematian semakin dekat bisa berupa rambut yang mulai memutih, sakit, usia tua, kulit yang mulai keriput. Terkadang datang tanpa tanda, orang muda, sehat, segar bugar tiba-tiba ajal menjemput, siapa sangka. Kematian bisa datang dengan sebab atupun tanpa sebab, sebabnya bisa berupa sakit berat, kronis, akut, ataupun sakit ringan, kecelakaan di jalan, di tempat kerja, dll.
Masalah bukan pada pertanda kematian atau sebab kematian, tapi pada ‘perjalanan’ menuju akhir episode hidup tersebut dan bagaimana kita ‘mengakhiri perjalanan tersebut’.
Kita adalah sang pengembara yang tengah menempuh perjalanan. Sejatinya sang pengembara menyiapkan ‘bekal’ untuk perjalanan panjang yang akan dilaluinya.
Seringkali mendung datang tapi kita (selalu saja) lupa untuk menyiapkan payung, berharap mendung pergi dan hujan pun tak datang.
Seringkali kematian ada di sekeliling kita, menghampiri orang-orang terdekat kita, saudara kita, sahabat kita, rekan kerja kita, tetangga kita, tapi kita (selalu saja) lupa mengambil hikmah, lupa mengoreksi diri, sudahkah bekal kita cukup untuk menghadapi masa itu. Yang ada seringkali sibuk membahas sebab pertanda kematian mereka, atau bahkan aib mereka, astagfirullahhaladzim (semoga kita bukan bagian yang ini). Atau kita (tetap) kembali bergumul dengan kehidupan dunia yang fana yang akan kita tinggalkan tanpa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk masa itu (semoga kita juga bukan bagian yang ini). Akankah kita bisa meminta penundaan atau percepatan kematian atau bahkan menghindar dari kematian, sedangkan tinta telah kering, dan takdir telah ditetapkan.
‘dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”(QS. 7:34)
Mari kawan, kita sedia payung sebelum hujan...
Dan mengambil hikmah dari setiap mendung yang datang...
·         Catatan untuk mengenang uwakku yang telah pergi untuk selamanya, jumat 5 Februari 2010, selamat jalan uwak, semoga Allah Subhanahu wata’ala menerima amal ibadahmu dan menempatkanmu disisi-NYA.amiin.

1” setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. 3:185)
2’di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan “ini dari sisi Allah”, dan jika mereka ditimpa keburukan mereka mengatakan,” ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan 9sedikit pun)?(Q.S. 4:78)