Udara siang hari di utara jakarta, yang hanya beberapa meter dari pantai, terasa begitu menyengat, hawa panas menyelimuti seluruh bagian kulit, memaksa bulir-bulir keringat menetes dari setiap pori-porinya, dahaga seakan mencengkram tenggorokan, segelas air putih tak jua membasahinya, meninggalkan dahaga yang sama. Sepanjang siang di utara jakarta akan selalu sama, panas, gerah dan dahaga, ya tentu saja karena awan mendung jarang sekali mampir, apalagi hujan.
Kuputar kipas angin pada kecepatan maksimal, berharap menghalau gerah dari tubuh, sesaat saja rasa sejuk menyelimuti, sejalan dengan putaran kipas angin yang menyapu seluruh bagian ruangan, bergantian. Ingin kuarahkan kipas itu ke satu arah saja, diriku, ah tapi tak adil rasanya, aku tak sendiri di ruangan ini.
Suara pinta ibuku mengusik galauku, aku bergegas memenuhi pintanya. Dahaga tak hanya melanda diriku tapi ternyata jua ibuku dan penduduk jakarta siang itu tentunya. Kupercepat langkah menuju portal dekat masjid, kulewati gang-gang sempit berharap tak tersengat terik mentari, mengharap teduh pada bayang-bayang rumah di kiri-kanan gang. Langkahku terhenti pada gerobak penjual buah dingin di bibir portal, sebuah belimbing berwarna kuning yang nampaknya manis kupilihkan sesuai pinta ibu, dan mataku tergoda oleh merahnya potongan semangka yang berjejer di atas bongkahan balok es. Hmm, membayangkan semangka yang manis dan dingin bergelut di antara lidah dan gigiku membuat mulutku penuh dengan enzim saliva yang baru saja diproduksi, merespon kerja otak. Sepotong semangka merah yang manis dan dingin kubawa pulang bersama belimbing dan nenas nan kuning. Kupercepat langkah kakiku, dan hatiku berdendang.
Saat ku buka plastik pembungkus sepotong semangka itu, makin nampaklah merahnya begitu menggoda, saat gigitan pertama ‘cress’ renyah terasa, disertai rasa manis dan dingin bercampur menyapu permukaan lidah dan dinding mulutku, dinginnya mengalir menyejukkan kerongkonganku, dan qalbuku bergetar menyerukan pujian, subhanallah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan buah semangka yang manis ini. Gigitan kedua kurasakan air yang manis dan dingin semakin membasahi mulut dan kerongkongan, mengalir hingga ke lambung. Dan qalbuku kembali bergetar, subhanallah wal hamdulillah, bersyukur atas karuniaNya, aku dapat merasakan lezatnya sepotong semangka merah yang manis dan dingin ini. Setiap gigitan berikutnya, kurasakan dahagaku terbasuh sejuknya air semangka yang manis dan dingin, hawa panas padang Sahara yang semula menyelimutiku sirna sudah. Qalbuku tak henti bergetar melafazkan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakan semangka. Yah bayangkan semangka memiliki kadar air yang tinggi, hampir seratus persen, 97% tepatnya. Sementara tubuh kita 90% adalah air, 60% kebutuhan air tubuh kita dipenuhi lewat air yang kita minum, sisanya melalui sayur mayur, buah-buahan dan makanan yang kita konsumsi. Maha Besar Allah yang telah menghadirkan air yang tersimpan dalam pori-pori tanah, celah batuan, diantara akar tanaman saat hujan turun. Allah yang telah menjaga siklus air terus berlangsung yang berasal dari penguapan air di pantai, laut, dan samudera, turun ke bumi, dan disetiap makanan yang kita makan.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Kartini afriani, siang yang terik di penjaringan ,2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar